Islam dan Terorisme

November 22, 2007

Islam dan Terorisme
Antara ANJURAN dan LARANGAN

MUKADIMAH
Ada paradox yang terasa sangat aneh bahwa permusnahan massal, tindakan kesewenangan dan hujatan penghinaan atas nama : System dunia baru dari Negara-negara yang memakai kekuatan jahat dalam memaksakan berbagai keyakinan, aliran dan keunggulan terhadap Negara-negara dan bangsa yang lemah, tanpa menghiraukan berbagai prinsif kebaikan, keadilan serta hak kemanusiaan, seperti yang terjadi di tanah Bosnia, Hosia dan Kosovo;yang derita bangsa palestina dan apa yang menimpa umat islam di Burma, Kasmir, Pilipina, Arteria Azerbijan dan lain-lain. Dikatakan paradox, karena semua yang terjadi di atas tidak pernah kita dengar ada yang meneriakan teroris, padahal dialah yang teroris sebenarnya.
Demikianlah paradox aneh juga, bahwa perangkat-perangkat media masa barat zionis dan sabilis sertapara pengekornya menutup mata dan telinga tentang tindakan teroris dunia tersebut. Mereka sama sekali tidak menyinggungnya, seolah-olah semua itu tidak pernah terjadi.
Ironisnya lagi, telah terjadi secara bersamaan isu gencar terorisme yang di lekatkan kepada islam dengan sebuah jaringan – ini mudah diamati oleh orang yang sangat awam sekalipun – yaitu jaringan penghancuran Islam ke akar-akarnya, sebagaimana yang mereka sebar-sebarkan bahwa Islam sebuah bahaya besar yang mengancam peradaban Barat. (sekedar informasi : Pada tahun 1992 telah terjadi tragedy memilukan bahwa kurang lebih 10 juta muslim menjadi sasaran pembantaian, pembunuhan dan pengusiran di 37 negara, menurut data statistik jaringan international). Jika jaringan ini terdapat di Negara-negara non Islam dan Arab, maka cengkraman kukunya telah sampai ke sebagian besar ke Negara-negara Islam dan Arab.
Namun apakah ada teriakan terorisme Kristen..? dari jaringan tentara Irlandia dan penjahat sindikat mafia serta pedagang narkoba Kristen, seperti juga tidak ada yang meneriakan MOSAT penjahat besar dari gerakan Zionis dunia sebagai musuh utama umat manusia di sepanjang zaman.
Jika semua itu terjadi di tingkat international, maka perkaranya berbeda dengan kejadian di tingkat nasional, di mana jika tindak kekerasan menjadi satu-satunya pilihan dan jalan keluar dalam menghadapi musuh-musuh umat ini demi membela hak, tempat-tempat suci dan kehormatan..!!! Maka tetap saja tindak kekerasan ini tidak di wajibkan serta bukan jalan keluar dan perbaikan, bahkan Islam melarangnya. Di samping itu ada saja tindakan yang menjurus kepada kekerasan yang di lakukan umat ini.
Akan tetapi ada sisa pertanyaan yang perlu kita kumandangkan, siapakah yang meneriakan bahwa ketaatan hidup beragama itu sebab timbulnyua terorisme..?? siapa juga yang menyeru bahwa obat terorisme itu dapat dilakukan dengan menyumbat sumber ketaatan beragama ???. Mari kita simak bersama tentang apa dan bagaimana dengan Islam dan terorisme itu…?.
DEFINISI TERORIS

Teroris dalam bahasa arab di sebut Irhabi artinya terror, bersifat menakutkan-nakutkan atau gerakan pengacau yang menakutkan banyak orang (teroris). Allah berfirman
واســتــرهــبـوهــم وجـآؤوا بــسحـر عــظـيم ( الأعرف)
: “..dan menjadikan orang banyak itu takut serta mereka mendatangkan sihir yang besar (menakutkan)”. QS.7:116
Dalam kontek kontemporer, makna terorise telah mengkristal dalam imej public setelah berdirirnya revolusi di Negara-negara yang terjajah dan beberapa tindak kekerasan yang dilakukan demi membasmi musuh-musuh revolusi serta menut-nakuti orang lain untuk mencegah upaya perlawanan serta membendung perjalanannya, hal itu terjadi sejak awal abad 18 M.
Ketiak isu terorisme mulai berbahaya, lingkupnya melebar serta bentuknya bertambah banyak, maka panggilan untuk menentangnya semakin meninggi, pengertiannya semakin mengecil serta bentuk-bentuknya jelas. Muncullah lembaga-lembaga resmi mengadakan konfrensi membahas problem pembatasan seputar definisi terorisme.
Barangkali definisi yang paling sederhana menurut para peneliti: “Teroris adalah sebuah tindakan pengacau secara material atau immaterial yang mengandung pemaksaan terhadap orang lain untuk mencapai tujuan tertentu”.
Adapun terorisme dalam pandangan dan definisi Islam sangat berbeda, di mana setiap orang yang merujuk kepada sumber-sumber syari’ah Islam akan menemui sebuah sikap yang jelas:
Bahwa konsep teroris sangat jelas sejak diturunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه ( راه مسلم )
Bahwa tidak ada terror antara umat Islam baik secara individu atau kolektif atau minimal jika harus ada terror itu hanya di lakukan terhadap musuh-musuh Islam saja.
Islam hanya mengenal perangkat membangun sebagai sarana terorisme. Adapun perngkat yang menghancurkan sama sekali tidak di akuinya, bahkan disebut dengan nama aslinya serta di haramkan dan dinilai sebagai tindak criminal yang mempunyai konsekwensi hokum yang setimpal.
Terorisme dengan sejumlah perangkat membangun dan postif sangat di anjurkan terhadap kelompok muslim, bahkan diharuskan memiliki perangkat tersebut secara material dan immaterial, untuk menggentarkan musuh-musuh serta mencegah dari gangguannya. Hal ini ndemi memperkenalkan agama dan menyebarkan ajaran-ajarannya di jagad raya ini. Allah berfirman:
واعـدُّو لـهم ما اسـتطعتم من قـوة ومن رباط الـخيل تـرهبون بـه عـدو الله وعـدوكم وآخريـن من دونـهم لا تـعلمونهم الله يـعلمهم . الأ نـفال 60
Artinya : Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan (terror) musuh Allah dan musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya…”.QS.8:60. lihat anjuran senada dikatakan Al-Qur’an dalam surat Al-Hasyr 12-13, Al-Anfal12, Al-Ahzab, dan lain-lain.
Berdasarkan pernyataan diatas maka definisi terorisme dalam konsep Islam adalah: “menggentarkan musuh dan membuat hati mereka takut disebabkan memiliki berbagai perangkat kemajuan teknologi dan keunggulan material dan moral, yang membantu untuk menyebarkan prinsip-prinsip, dan idiologi tanpa dapat perlawanan yang setimpal.
TERORISME YANG DILARANG

Jika terorisme dampak dari penggunaan perangkat yang menghancurkan dan menimbulkan berbagai bentuk perusakan terhadap manusia, Negara atau individu tertentu, berbagai harta benda swasta dan inventaris Negara jelas itu terorisme yang dilarang.
Karena perangkat dan bentuk ini merupakan sarana negatif, menghancurkan, menakutkan, merusak dan membahayakan. Bukan sarana positif, membangun, memberi keamanan, mereformasi dan memberi manfaat. Tidak ada satu hurufpun tujuan tersebut dalam Islam, bahkan diharamkan apakah dilakukan terhadap individu, kelompok dan bangsa tertentu.
Islam telah membuat sangsi-sangsi yang setimpal untuk menghentikan bentuk-bentuk, perangkat dan berbagai sarana penghancur masyarakat Islam bahkan manusia secara umum, demi merealisasikan keamanan, menyebarkan ketentraman dan kedamaian di penjuru alam sekaligus membasmi perangkat tersebut.

Perbuatan Keji (al-Bagy.

Allah berfirman:” Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlakua adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji…”.(QS. 16:90).
Tindakan melampaui batas (lalim)
Allah berfirman:..”maka tetaplah kamu pada jalan yang benar,sebagaimana diperintah kan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas.” (QS. 11.12.

Kezaliman

Allah berfirman: “…dan barang siapa diantara kamu yang berbuat zalim,Niscaya kami rasakan kepadanya azab yang besar” (QS. 25:19). Dan Firman-Nya dalam sebuah hadist Qudsy: “ WahaihambaKu sesungguhnya Aku haramkan atas diriku kezaliman, maka Aku jadikan haram(pula) diantara kamu, maka janganlah kami bertindak zalim”.HR.Muslim.
Sikap bermusuhan yang berlebihan
Islam telah mengharamkan tindakkan zalim baik secara fisik Allah berfirman: “dan perangilah dijalan Allah orang-orang yang memerangi kamu (tetapi) janganlah kamu melampaui batas (kecenderungan memusuhi), karena Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (QS.2:190). Tau secara mental, Allah berfirman: “ hai orang-orang berfirman, dan janganlah kamu haramkan apa-apa yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan jangan lah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.(QS. 5:87.

Khianat

Allah berfirman: “Sesungguhanya Allah tidak mmeridhoi tipu daya orang-orang yang berhianat”.(QS. 12:52) dan “Sesungguihnya Allah tidak menyukaiorang-orang yang selalu berkhianat lagi bersgelimang dosa”. (QS. 4:93)

Membunuh

Allah berfirman: “Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (QS. 5:32) dan “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, kekal ia didalamnya dan Allah murka kepadanya . Dan mengutuknya serta menyediakan azab yang besar baginya”.(QS. 4:93)

Pencurian

Allah berfirman: “Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”.(QS. 5:38)
Memerangi Allah (perusuh dan pengacau keamanan)
Allah berfirman: “Sesungguhnya terhadap orang-orang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan dimuka bumi, hanyalah mereka dibunuh atau disalib. Atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan suatau penghinaan untuk mereka didunia, dan di akhirat mereka memperoleh siksaan yang besar.”(QS.5:33)

Maka jelas, bahwa islam sangat melarang dengan alasan apapun semua sarana, bentuk kerusakan dan terorisme negative. Sebagaimana juga islam secara transparan menggunakan berbagai terminology hakiki untuk menyebut semua bentuk pengacau dan tindak kejahatan lainnya. Mari kita simak sikap Rasullah saw dalam terror:
Rasulullah Saw bersabda: “ janganlah kamu menakut-nakuti orang muslim, karena menakut-nakutinya hingga ia meninggalkannya, meskipun saudara dan seibu”. HR. Muslim .
Masih banyak lagi hadis Rasulullah mengancam orang-orang yang melakukan tindak kejahatan dan terorisme negative kepada sesama menusia.

TERORISME YANG DIANJURKAN

Ketika Islam melarang terror dalam bentuk perusahaan dengan perangkat dan sarana penghancur, tidak berarti bahwa islam menghendaki penganut hidup dalam keadaan lemah, rendah, mengecor dan hina di dunia yang penuh dengan berbagai hal penganutnya berada dipuncak keluhuran yang dapat membantunya merealisasikan tujuan luhur syari’ahnya.
Islam menghendaki umatnya menjadi ilmuan(ilama), lihat QS. 29:42, 35:28; berkecukupan (memiliki perangkat kemajuan) lihat QS. 93:8 ; dan kuat. Lihat QS. 11:52. Makanya Rasullah Saw baerdo’a : “Ya Allah aku meninta kepadaMu hidayah , ketaqwaan, iffah dan kecukupan”. HR.Muslim.
Demikian ini, karena ridalah islam ini sangat luhur dan agung, sudah pasti membutuhkan pembawa dan penyebarnya menjadi orang-orang yang sesuai dan kapabel. Allah berfirman: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah..”(QS. 3:110).
Tidak hayal lagi Islam menuntut umatnya memiliki fakto-faktor yang dapat membantu untuk dapat memberikan jaminan mereka dalam menyebarkan misi dan menyampaikannya kepada alam semesta; menuntuk mereka memiliki kekuatan yang dapat menggentarkan musuh risalahnya; serta menuntut mereka memiliki berbagai perangkat membangun baik harta moril yang dapat mengantarkan mereka kepada kemajuan, keunggungalan dan kewibawaan, sekali lagi dapat menggentarkan musuh-musuh kebenaran misinya.
Jadi tidak berlebihan jika kita katakan bahwa men-teror musuh-musuh Islam dan umat ini adalah menjadi dianjurkan (fardlu). Dalam hal ini Allah berfirman: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan (teror) musuh Allah dan musuhmu dan orangorang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya…”.(QS. 8:60).
Berdasarkan ini, maka sebaik nya penulis singgung di sini beberapa perangkat yang wajib dimiliki oleh pengikutnya untuk menteror musuh-musuhnya:

Memiliki Kepercayaan

Memiliki pepercayaan diri serta tidak terserang penyakit wahen (pikun) dan lemah adalah merupakan sentral ajaran islam, Allah Berfirman: “janganlah kamu bersikap lemah, janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang peling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman (QS.3: 135). Dan islam memperkokoh serta memperkuat jiwa dan tekad meraka “ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu ada khawatiran terhadap mereka dantidak (pula) mereka bersedih hati”.(QS. 10:62)
Semua itu dapat memberikan kepercayaan penuh kepada diri orang beriman, menanamkan kekuatan hakiki dalam jiwanya untuk dapat melaksanakan risalahnya serta menjauhi mereka dari hantu perang syaraf.

Memperoleh Kekuatan

Kekuatan yang harus dimiliki menggentarkan musuh-musuh islam adalah kekuatan daam berbagai hal; kekuatan fisik, intelek, penemuan, produk, industri, pertanian, kedokterandan nuklir dan seterusnya.
Kekuatan kwantitas dalam berbagai hal dan kekuatan kwalitas yang paling utama dan mutakhir serta lebih maju dan unggul, makna ini sebenarnya yang di kandung dalam surat al-Anfal ayat 60 itu, kata kekuatan “Quwwatan” dalam bentuk nakirah (kata benda yang tidak tentu) yaitu berbagai kekuatan yang lebih sempurna.

Sikap Moderat

Syarat ini hanya terpenuhi jika umat Islam memiliki kepekaan dan faham yang benar terhadap agamanya, cerdas spiritual serta emosionalnya; hidayah dan ajaran agamanya benar-benar telah menyinari kehidupannya, serta memahami dan mengaplikasikan keadilan dan kemoderatan sikap agamanya dalam seluruh sector kehidupannya.
Allah berfirman: “Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dari (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan” “dan jangan kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim”(QS.11:112,113)
Dengan terpenuhi syarat dan neraca ini maka :
dapat menjadi perlindungan protektif terhadap kaum muslimim dari sikap militansi negative dan melampai batas serta dapat memelihara masyarakat individu dan kolektif dari penyimpangan secara berlebihan.
Dapat menjadi pelindungan kewibawaan di hati musuh-musuhnya, di sebabkan mereka memiliki kekuatan penolakan tughat (orang-orang yang lalim dan melampaui batas), sebagaimana ia tercampak penyakit wahn dan takut dari hatinya, karena mereka orang-orang yang memahami agama, konsekwen terhadap keadilan, melaksanakan seluruh ajarannya dan percaya akan kemenangan yang Allah janjikan, yaitu mereka orang-orang yang tidak dapat digetarkan dan dilemahkan oleh terorisme yang sering disalah tafsirkan maknanya oleh umat manusia dan sebagian muslimin di segenap penjuru alam raya ini. Mudah-mudahan hidayah selalu dilimpahkan kepada umat islam yang beriman dan beramal sholeh, karena Allah tidak menyia-nyiakan orang-orang yang melakukan yang sebaik-baiknya.
Wallahu’alam


MEMAMAHI TAUHID DARI SUDUT PRAKTIS

November 21, 2007

Kata “tauhid” adalah bentuk mashdar dari kata wahhada –yuwahhidu– tauhiid. Artinya: menjadikan sesuatu menjadi satu. Jadi “tauhid” menurut bahasa dalah menetapkan dan mengetahui bahwa sesuatu itu satu. Menurut istilah, “tauhid” berarti meng-Esa-kan Allah dan menunggalkan-Nya sebagai satu-satunya Dzat pemilik rububiyah, uluhiyah, asma’, dan sifat, serta memurnikan-NYA dari segala apa yang difahami dan dikhayalkan makhluk. Ilmu Aqidah disebut Tauhid karena tauhid adalah pembahasan utamanya, sebagai bentuk generalisasi
Ilmu Tauhid dan Aqidah menurut Salaf Soleh bukanlah seperti yang dikenal belakangan, berupa kemasan kata-kata (ilmu kalam), munculnya berbagai kerancuan, dan kemampuan untuk mematahkan pendapat lawan dan perdebatan (ilmu Jidal), akan tetapi Tauhid adalah sebuah pandangan mereka terhadap bahwasanya segala sesuatu itu dari Allah; dan pandangan yang berpaling dari hukum sebab-akibat serta berbagai sarana, maka mereka memandang segala kebaikan dan keburukan hanya dari Allah SWT. Orang yang bertauhid menurut mereka adalah orang yang hanya melihat Yang Maha Esa dan tidak berpaling ke arah lain, sehingga tauhid ini membuahkan sejumlah sifat-sifat mulia seperti tawakal, sabar dan ridla kepada Allah SWT.
Seorang yang telah banyak membaca dan menguasai buku-buku tauhid, ilmu yang membicarakan sifat-sifat, asma Allah dan berbagai perbedaan pendapat golongan (firqah) dalam Islam seperti, ahlussunah, qadariyah, jabariyah, syia’ah dan lain-lain, tidak berarti bahwa ia menjadi orang yang mendalam tauhidnya, sebelum dapat merealisasikan dalam hati sehingga ia dapat merasakan (dzauq) sifat-sifat dan asma Allah tersebut, seperti ia betul-betul dalam kesehariannya merasakan bahwa Allah Maha Mendengar, Melihat dan seterusnya.

Atas dasar ini maka ulama yang telah merealisasikan makna-makna tauhid dalam jiwa dan raganya membagi tauhid -dari sudut praktis ini- kepada 3 tahapan:
1. Tauhid Imani.
Adalah pembenaran hati (tasdiq) terhadap ke-Esaan Allah melalui Alqura’an dan Hadis, serta pengakuan lisan (1qrar). Konsekwensi dari tasdiq dan iqrar ini si pemilik tauhid ini akan terbebas dari penyakit syirik yang nyata (jaliy), penyembahan selain Allah SWT, masuk ke garis muslim, tidak abadai di neraka, dan termasuk kepada golongan orang-orang beriman. Tauhid dasar ini sama dimiliki oleh semua umat Islam yang beriman alim atau awam, pendosa atau orang-orang soleh dan para aulia. Akan tetapi orang-orang Arif billah (mengenal Allah) tauhidnya beberapa tingkat lebih maju dari mereka. Cahaya tauhid ini di dalam hati pemiliknya umpama sinar bintang-bintang di langit di malam gelap gulita.

2. Tauhid Yaqini
Tauhid yang diperoleh melalui keyakinan hati, bahwa tidak ada sebuah wujud hakikat, dan tidak ada pelaku serta pemberi pengaruh mutlaq dalam jagad raya ini melainkan Dzat Allah Yang Maha Suci. Semua dzat, sifat-sifat dan perbuatan di alam raya ini cerminan dari Dzat, Sifat dan Perbuatan Allah SWT.
Ia melihat bahwa setiap sifat adalah pengaruh dari Sifat-NYA; setiap perbuatan pengaruh dari Perbuatan-NYA dan setiap ilmu, kemampuan (qudrah), keingingan (iradah), pendengaran dan penglihatan semua itu merupakan pengaruh dari Qudrah, Iradah, Sama’ dan Bashar Allah SWT. Sehingga ia senantiasa merasa di awasi oleh Allah SWT (muraqabah), kemudian dari kondisi spiritual ini muncul tauhid yaqini.
Tauhid ini adalah sebuah langkah kedua dari kemajuan tauhid dasar di atas yang tumbuh dalam hati orang beriman, si pemilik tauhid ini akan merasakan (dzauq) banyak kegembiraan terhadap kemajuan hatinya, oleh karena ia senantiasa melakukan sesuatu amal sesuai dengan tuntunana ilmu syari’ah dan terbebas dari pandangan dan ketergantungan kepada hubungan sebab akibat dan perantara (ikhlas), sehingga konsekwensi dari tauhid ini ia terbebas dari sebagian syirik khafi (syirik yang sangat halus), umpama bulan purnama yang terang benerang menyinari bumi ini, demikianlah kira-kira ilustrasi cahaya tauhid ini di hati si pemiliknya.

3. Tauhid Haali
“Hal” adalah istilah untuk sebuah kedudukan spiritual seseorang yang menduduki puncak tauhid yang paling tinggi sehingga menimbulkan apresiasi sifat-sifat mulai dari sumber hati yang penuh dengan cahaya hak. Pemilik tauhid ini sering dikenal sebagai para wali Allah, ‘arif billah, muqarrabiin, atau orang-orang Siddiqin, seperti yang tertera dalam al-Qur’an.
Allah berfirman: “Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul(NYA), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para Shiddiqin, orang-rang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya”. (QS. Annisa:69)
Sumber tauhid ini muncul dari jiwa yang musyahadah kepada Allah SWT, cahanya menyinari jiwa raga dan kehidupan di sekelilingnya umpama sinar mentari yang menembus semua sisi gelap di semua penjuru. Sehingga si pemilik tauhid ini harus merasakan penangaanan Allah SWT terhadap dirinya, segala gerak-gerik dan kemauannya telah senantiasa ia sesuaikan dengan iradah Penciptanya lahir dan bathin, ia betul-betul telah mengalami tingkat kepercayaan (tsiqah) dan kepasrahan (tawakal) yang sangat tinggi dalam seluruh kehidupannya. Maka tidak ayal lagi orang ini telah betul-betul mendapatkan ketentraman jiwa yang sangat mapan, umpama gunung tinggi yang tak bergeming meskipun diterpa topan dan goncangan bumi apapun.
Firman-NYA: “Sesungguhnya pelindungku ialah Yang telah Menurunkan Alqur’an dan Dia melindungi orang-orang yang saleh”. (QS Al’Araf:196)
“Adapun jika dia termasukorang-orang yang didekatkan (oleh Allah)(Muqarrabin). Maka dia memperoleh ketentraman dan rezki serta jannah kenikmatan”. (QS. Alwaqi’ah:88).

Penutup.
Untuk melewati dan meningkatkan tauhid ini maka kita harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mempelajari ilmu syari’at sekaligus mengamlkannya sesuai dengan Alqur’an dan Sunnah
2. Bertauladan, bercermin kepada orang-orang soleh serta menimba pengalaman spiritual mereka.
3. Melakukan mujahadah untuk mendirikan dominasi iradah kebaikan terhadap iradah keburukan atau menjauhi karakter buruk mejadi akhlak mulia, dan menumbuhkan rasa pengawasan (muraqabah) Allah dalam diri kita, ntuk meningkat tauhid imani ini kepada tauhid yaqini.
4. Berdzikir kepada Allah SWT senantiasa, sehingga istiqamah dalam taqwa Allah dan mendapat musyahadah kepada-NYA, demi mencapai tauhid haly .
Semoga catatan kecil ini bermanfaat menambah ilmu dan amal kita, sehingga senantiasa kita berada dalam magfirah, rahmah dan ridlaNYA. Amin….


Assalamualaikum wr wb.

November 21, 2007


Ikhwati Fillah..
Dalam agama (Islam) kita ada tiga unsur yang disebut Islam, Iman dan Ihsan.
– Islam oleh Rasulullah saw dalam dialognya kepada Jibril (dalam Hadis Umar ra.) diperkenalkan sebagai rukun Islam yang lima. dan perkara ini pada abad pembukuan (tadwin) ilmu-ilmu Islam dikenal sebagai Ilmu FIKIH.
– Iman adalah sebagai rukun Iman yang enam. kemudian secara teori panjang lebar lengkap dengan berbagai firqah2 yang berikhtilaf dalam masalah aqidah ini dibahasa dalam sebuah ilmu yang disebut ilmu TAUHID, AQAID atau ILMU KALAM
– Ihsan. Nabi Muhamad saw dalam hal ini tidak menuturkannya dalam bentuk rukun, melainkan dijelaskan dengan sebuah definisi. Yaitu: “Anda beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-NYA, jika tidak melihat-NYA maka DIA tetap melihatmu”. untuk memunculkan spiritual ini yang perangkatnya bukan kepala, tubuh atau kaki, melainkan hati. maka kemudian secara panjang lebar perkara ini di bahasa dalam sebuah bidang yang sejak abad pertengah ke II hijriyah dikenal dengan sebutan Ilmu TASAWUF.

Sejak saat itu dikenallah dalam dunia Islam sepanjang masa -secara umum- bahwa ilmu-ilmu Islam terdapat tiga unsur (diungkap dalam bahasa istilah oleh para ulama Islam).
1. Islam = Syariah = Fikih
2. Iman = Aqidah = Tauhid
3. Ihsan = Akhlak = Tasawuf

Jadi, akhlak atau Tasawuf atau Ihsan, bukan persoalan sampingan atau hal-hal yang bersifat budaya dalam agama Islam. Ia adalah ruh, inti dan denyut kehidupan agama, tanpa ada kebersihan Akhlak itu sama dengan syirik dalam melakukan serangkaian kebaikan dan ketaatan, tanpa niat, dan keikhalasan serta tujuan karena ALLAH (ikhlas).

Jika kita memahami disiplin rangkaian ini, maka kita akan faham juga seberapa urgensinya seorang muslim terhadap kebersihan hati, akhlak dan spritualnya, agar mendapatkan hikmah-hikmah dan berjaya dari seluruh rangkaian aktifitas yang dilakukannya dalam kehidupan di dunia ini hingga kelak di akherat.

Semakin jelas bahwa menekuni bidang akhlak-tasawuf-adab (bukan adab budaya manusia) adalah penekunan terhadap salah satu unsur dasar atau inti dari bidang agama Islam, seperti kita menekuni bidang fikih dan tauhid (apakah melalui Alquran, Hadis atau karya-karya ulama seperti tafsir, syarah Hadis dan pengamalaman akhlak-tasawuf lainnya). bukan sebuah gerakan atau jamaah. seperti munculnya jama’ah Islam belakangan setelah suqut Daulah Islam. Wallahu’alam.