Makalah

Membaca Analisis Kritis Kitab ‘Uqud al-Lujjayin

Prolog
Kitab Uqud al-Lujjayin fi bayan huqu al-zaujayin ini ditulis oleh Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al-Banteny pada tahun 1877 M. terdiri dari empat bab dengan urutan sebagai berikut: Pendahuluan, Kewajiban Suami terhadap Isteri, Kewajiban Isteri terhadap Suami, Keutamaan Shalat di Rumah Bagi Wanita, Larangan Melihat Lawan Jenis dan Penutup yang diberi judul Tingkah Laku Wanita.
Kitab ini sejak awal telah menjadi bacaan dan referensi kalangan muslim Indonesia tentang masalah pergaulan keluarga melalui lembaga pendidikan Pesantren. Otoritas Imam Nawawi sebagai seorang ulama sangat kuat dalam memberikan pengaruh kehidupan masyarakat Indonesia, sehingga kitab ini bertahun-tahun menjadi bacaan penting para penutut ilmu. Namun belakangan, muncul banyak kritik terhadap kitab ini, terutama dengan melihat pendasaran-pendasaran ajarannya yang dinilai lemah.
Kritik itu muncul dari para pemikir kontemporer dan aktifis feminis Muslim. Kritik tersebut berkisar kepada:
1. Ketidakadilan jender, terutama dalam pola relasi suami istri dan pengarang kitab tersebut dinilai kurang memiliki sensitifitas jender dan cenderung mengokohkan superioritas laki-laki atas perempuan.
2. Dari segi takhrij hadis. Di mana dalam kitab itu memuat 120 hadis; 26 hadits lemah (dla’if) dan 35 hadits palsu (maudlu’).
Mereka menilai bahwa dari 4 bab dalam kitab itu menekankan keharusan wanita untuk bersikap tunduk, hormat dan tawadlu’ terhadap suami. Bahkan secara terang-terangan buku itu menekankan supaya perempuan sadar bahwa dirinya adalah pelayan suami, dan budak yang dinikahi tuannya dan tawanan yang lemah tak berdaya dalam kekuasaan seseorang serta keharusan-keharusan lain yang panjang lebar, mulai dari larangan menentang suami, larangan keluar rumah tanpa ijin suami, tidak boleh membelanjakan harta suami tanpa ijin, dan hal-hal lain yang dikategorikan sebagai “merendahkan” martabat wanita.

Analisis Balik
Agar kita bersikap adil terhadap karya Syekh agung ini dan menghargai para aktifis feminis Muslim, sehingga semangat kitab tersebut tetap menjadi motifator kepada generasi jaman demi kesinambungan dan kekayaan khazanah inetelektual muslim Indonesia.
Sebaiknya mari kita fahami beberapa hal berikut:
1. Pemikiran Islam itu tidak sama dengan Islam. Islam syariat Allah yang sesuai di segala waktu dan tempat, abadi dan tidak akan berubah. Itu sebabnya setiap pengkaji keislaman memiliki kesempatan yang selebar-lebarnya untuk menguraikan dan menginterpretasikan Islam sesuai dengan kebutuhannya serta semangat Islam itu sendiri demi kemaslahatan individu dan masyarakat sosialnya sepanjang waktu dan tempat.
2. Fikrah Islam itu sebuah proses bukan produk. Hasil pemikiran yang dipersembahkan ulama jaman adalah sebuah interpretasi realistis dan konkrit atau sebuah proses kehidupan Islam yang semakin berkembang. Maka dalam membaca karya-karya ulama sepanjang masa hendaklah sebelumnya telah memiliki bekal sumber asli Islam yang cukup, kokoh dan mendalam. Sehingga mampu menangkap semangat, pesan dan proses perkembangan intelektualitas umat Islam, pada akhirnya tidak mengkultuskan apalagi menyalahkan serta menghina karya-karya pendahulunya.
3. Setiap pemikiran memiliki kebenaran relatif sesuai dengan realitas dan konteks zamannya. Dalam hal ini Syekh Nawawi telah melakukan tindakan jujur dan benar melalui karya-karyanya, terutama kitab uqud al-Lujjayin, karena latar belakang dan metodologi lahirnya kitab tersebut dipengaruhi oleh kondisi berikut:
pertama, Munculnya kitab tersebut di saat masa penjajahan ke seluruh dunia Islam, temasuk Indonesia dengan kolonial Belanda, maka para ulama Islam termasuk Syekh Nawawi lebih mengutamakan keamanan perempuan untuk tetap dirumah atau pada wilayah domestik. Hal ini dilakukan sebuah tanggung jawab beliau sebagai kafasitas pengajar dan pembimbing umat. Seandainya Syekh Nawawi hidup di jaman sekarang, maka beliau akan lebih dahulu menulis perkembangan baru dari pola pemikirannya yang sesuai dengan kebutuhan.
Kedua, secara pengetahuan dan kehidupan Syekh Nawawi, beliau lebih lama hidup di Arab Saudi (Mekkah), negara muslim yang elit, di mana seluruh tatanan sosialnya dibangun di atas tuntunan Tauhid, sedang Indonesia adalah wilayah yang penuh dengan faham politisme dan animisme. Tradisi kehidupan masyarakat Indonesia yang agraris mendorong para wanita keluar rumah untuk bekerja keras di ladang dan sawah sama seperti laki-laki, kehidupan ini kerap melahirkan kekarasan sifat ummumah wanita serta kekeringan kasih, sayang dan keharmonisan.
Maka yang dilakukan Syekh Nawawi adalah mengangkat martabat wanita dan memasukannya ke dalam rumah untuk menjadi pembantu suami yang baik dan menaungi kehidupan rumah tangga dengan penuh kasih dan sayang.
ketiga, bahwa pendekatan dan pembacaan Syekh Nawawi terhadap al-Qur’an dan Hadis betul-betul merupakan paduan antara bacaan tekstual dan konstektual. Sehingga dalam kitab itu nampak usaha keras yang dilakukan oleh beliau untuk menciptakan fiqih Islam yang dibangun oleh kebutuhan masyarakat islam dalam kacamata beliau.

4. Islam mempunyai dua karakter utama ajarannya: aspek konstan dan fleksibel. Karakter ini yang akan membuat Islam tetap survive sepanjang zaman.
Dari sini kita fahami, bahwa dengan aspek konstan Islam ingin membangun pondasi kehidupan ini sesuai dengan tujuan Ilahiah, melalui ibadah tauqifiyah dan akhlak al-karimah; dan dari aspek fleksibel, Islam memberikan keleluasaan membentuk masyarakat yang adaptif dan orientasinya pasti, bahkan berkembang secara efektif melalui ibadah umum dan hukum-hukum muamalah. Dua hal yang beroposisi secara biner itu kemudian melahirkan gerak dialektik (al-harakah al-jadaliyah) dalam pengetahuan dan ilmu-ilmu sosial. Dari situlah diharapkan lahir paradigma baru dalam pembuatan legislasi hukum Islam (tasyrî’), bahkan dua hal ini pula yang menjadi karakter perbedaan mendasar antara Islam dengan hukum positif social kemasyarakatan yang terbentuk dengan sendirinya dan terkondisikan sesuai dengan komitmen, kebutuhan, atau imajinasi.

Penutup
Maka dari analisis kritis ini hendaklah kita sebagai masyarakat Nawawi Banten harus menangkap maksud baik Syekh agung itu dan bertanggung jawab untuk melanjutkan proses intelektual Nawawi hingga tetap eksis dan diakui oleh dunia Islam sepanjang masa.
Selanjutnya mari kita membaca langsung pemikiran Syekh Agung Banten yang telah menjadi Singa ulama Hijaz di abad 19 lalu di dalam kitab Uqud al-Lujjayin fi bayan huqu al-zaujayin yang monumental itu

MEMAMAHI TAUHID DARI SUDUT PRAKTIS

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: